Thursday, March 4, 2010

small is a new BIG

Masih seputar Inovasi…


Terinspirasi oleh pemikiran Paul Bennett, Creative Director-nya IDEO. Ada satu pertanyaan kenapa satu perusahaan lebih baik dari perusahaan lainnya dalam hal inovasi?

Hampir sepanjang waktu kita saksikan pertarungan inovasi antara perusahan besar dan kecil, pemenangnya adalah mereka yang dapat menyesuaikan antara keinginan dan kebutuhan, perusahaan besar cenderung ber-inovasi untuk “keinginan” ; untuk kepentingan organisasi–nya, sementara perusahaan kecil ber-inovasi demi “kebutuhan” akan customer, untuk membuat perusahaannya menjadi besar.

Maka tak heran mereka tanamkan baik-baik pepatah “Small is a new big”, dan mereka tahu dengan mendengarkan, mengajak customer untuk terlibat dalam proses penciptaan design dan produk-produk barunya, atau memposisikan perusahaan seolah-olah sebagai customer, bahkan bila perlu keterlibatan secara tidak langsung customer dalam perubahan struktur organisasi di perusahaan demi untuk mencapai tujuan.

Perusahaan (besar maupun kecil) sebenarnya keduanya adalah pemenang dalam pertarungan ini, karena mereka mempunyai pendekatan berbeda dalam hal inovasi, mereka mengembangkan sendiri inovasi-inovasinya dan masing-masing punya keunikan tersendiri di jalannya masing-masing.

Kita ambil contoh : DELL dengan program IdeaStorm nya memberi kesempatan kepada khalayak untuk ikut berkontribusi dan berekspresi secara bebas demi kelangsungan terciptanya desain, fitur maupun produk-produk barunya. BBC membangun team kreatif untuk terus mendorong berlangsungnya inovasi, yang terdiri dari 50 orang terlatih sebagian adalah staff BBC namun yang menarik kebanyakan dari mereka adalah Operational Manager yang kita tahu mereka jarang bersentuhan langsung dgn urusan kreatif.

E-BULLI salah satu restoran terbaik di dunia menutup restorannya selama 6 bulan dalam setahun demi untuk pengembangan dan penelitian kulinernya, agar kreatifitas & kualitas selalu terjaga. Dan juga masih banyak contoh yang lainnya. Satu hal yang masing-masing perusahaan memiliki kesamaan pemahaman tentang kata inovasi adalah :

1. It’s all about DOING, Inovasi bukanlah kata benda, namun kata kerja. Bukan juga soal diagram, hipotesa, ataupun hasil diskusi di ruang meeting. Inovasi adalah melakukan hal baru, inovasi adalah soal melihat (dengan mata kepala sendiri) tentang kesenjangan, kebutuhan, peluang bisnis dan kemudian merancang dan membuat solusi nyata.

2. It’s about PEOPLE, tentang sdm, sdm yang sesungguhnya, bukan hanya kumpulan orang-orang berseragam yang siap menjawab setiap pertanyaan mengenai anda dan produk anda. Tetapi orang-orang yang merasa nyaman dan merasa berada dirumah sendiri yang selalu siap sedia menyiapkan sarapan berupa ide-ide segar buat anda dan team anda, orang-orang seperti itulah yang layak untuk diminta masukannya buat anda dan perusahaan dan mereka patut mendapat penghargaan karena bersama mereka perusahaan bisa sama-sama mencapai tujuan.

3. FAILURE is important too, KEGAGALAN juga suatu hal yg penting, seringkali kita melewati kegagalan sebelum mencapai hasil yang sempurna, kita banyak belajar dari kesalahan dan kegagalan, saat ini kita hidup dalam budaya ‘Beta’ tak ada lagi sesuatu yang absolut di masa sekarang ini, perusahaan sebesar microsoft pun hampir selalu meluncurkan versi beta dari produk softwarenya karena mereka tahu mereka butuh masukan dari user yang akan mengoreksi kesalahan maupun kekurangannya. Menghabiskan waktu bertahun-tahun dibalik meja riset untuk menyempurnakan sesuatu hanya akan membuat kita banyak kehilangan biaya dan waktu dan perpeluang akan ada yang menyalip kita ditengah jalan, dengan membuat prototype, membuat versi beta yang kesempurnaannya taruhlah mencapai 70% ketika mendapatkan masukan akan mencapai 100%, selain menghemat waktu juga menghemat biaya.

4. COLLABORATION is the key, BEKERJASAMA adalah kuncinya, setiap individu melakukan bagiannya masing-masing dalam membuat sesuatu dan semuanya merasa dihargai dan merasa puas ketika tujuan tercapai. Memadukan skill dan minat akan membuat team menjadi semakin dinamis dan akan menghasilkan karya yang lebih inovatif. Karena setiap individu mempunyai keunikannya masing-masing.

5. Dan yang terakhir adalah BRAVERY (KEBERANIAN), tidak ada formula khusus ataupun resep rahasia yang ditambahkan untuk memenangkan persaingan kecuali anda harus BERANI. Cobalah.

10 Wajah Innovator

IDEO, konsultan design paling inovatif di dunia meluncurkan buku terbarunya “The Ten Faces of Innovations”, penuh dengan kisah-kisah menarik seputar budaya kerja & inovasi di IDEO serta individu-individu yang berperan di dalamnya sehingga menjadikan IDEO sebagai perusahaan design paling inovatif di dunia (No.1), juga merupakan perusahaan yang paling cepat perkembangannya (No. 5 – setelah Google, Apple, Facebook dan GE).

Diulas juga tentang bagaimana IDEO membantu perusahaan-perusahaan besar seperti Kraft, Samsung dan Procter & Gamble, bukan saja mampu meningkatkan penjualan tapi juga mampu mengubah tingkah laku pelanggannya. “The Ten Faces of Innovations”, merupakan panduan luar biasa untuk memelihara dan mempertahankan budaya inovasi dan pembaharuan dalam suatu organisasi/perusahaan.

Berikut adalah ringkasan isi buku ini yang saya sadur dari : www.tenfacesofinnovation.com
Inilah 10 karakter dari para innovator di IDEO yang tentu saja patut diadopsi oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang design juga dibidang yang lain.

THE LEARNING PERSONAS (Para Pembelajar) : Individu dan perusahaan harus terus mengumpulkan sumber-sumber informasi baru dalam rangka memperluas pengetahuan dan terus berkembang, tidak peduli seberapa sukses sebuah perusahaan, tidak boleh ada seorangpun yang merasa puas.

Dunia berubah begitu cepat, ide brilian hari ini mungkin akan menjadi ide kuno keesokan harinya, peran para pembelajar mendorong team agar tidak terlalu fokus pada masalah internal saja dan mengingatkan perusahaan agar tidak berpuas diri atas apa yang telah “dikuasai” atau “diketahui”.

Individu yang mengadopsi pola pikir para pembelajar cenderung akan rendah hati dalam memandang dunia luar dan akan dengan mudah menyerap ide-ide baru.

PARA PEMBELAJAR adalah :

1. The Anthropologist
Sang Antropolog adalah individu yang jarang bisa diam, dia lebih suka terjun ke lapangan untuk melihat bagaimana orang berinteraksi dengan produk, layanan, dan tingkah laku konsumen untuk membuat inovasi baru, uniknya Sang Antropolog punya cara pandang tersendiri terhadap masalah-masalah yang dihadapi sehingga menghasilkan solusi dan inovasi baru untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karakteristik Sang Antropolog dalam mengamati sesuatu benar-benar dengan pikiran terbuka, empatif, intuitif dan dapat melihat sesuatu yang luput dari pengamatan orang lain, minat yang tinggi terhadap konsep-konsep inovatif yang harus dipecahkan dan sering menemukan inspirasi dari tempat-tempat yang tidak lazim.

2. The Experimenter
Sang Experimenter lebih menyukai proses daripada alat, akan mencoba dan mencoba lagi untuk mengembangkan ide menjadi karya nyata, ia seorang pengambil resiko yang penuh perhitungan, individu yang satu ini akan membuat model dari suatu produk, layanan ataupun proposal untuk efisiensi mencapai solusi.

Dalam rangka berbagi kesenangan dalam experimennya, Sang Experimenter akan mengajak orang lain untuk berkolaborasi sambil memastikan bahwa seluruh proses ini menghemat waktu dan biaya.

3. The Cross-Pollinator
Sang Pengawin-Silang akan mencoba mengawinkan ide-ide atau konsep-konsep yang nampaknya sama sekali tidak ada hubungannya menjadi ide baru yang mengejutkan, dengan berbekal rasa ingin tahu yang begitu besar dan kemauan untuk terus belajar maupun berbagi, menjadikan Sang Pengawin-Silang membawa ide-ide segar dari dunia luar kedalam perusahaan sehinga perusahaan serasa lebih hidup dengan kehadirannya.

Individu seperti ini dapat dikenali dengan ciri-ciri : openminded, rajin, cenderung berfantasi dalam berpikir, dan kemampuan mendapatkan inspirasi dalam segala situasi.

THE ORGANIZING PERSONAS : Individu-individu selanjutnya adalah para pengatur (The Hurdler, The Collaborator, The Director) mereka tahu cara mendorong perusahaan untuk terus maju dan menjalankan inovasinya walaupun situasi didalam perusahaan begitu rumit.

Di IDEO kami percaya bahwa suatu ide dengan sendirinya akan “berbicara”. Sekarang kita mengerti apa yang telah diketahui oleh The Hurdler, The Collaborator, The Director; bahwa sebagus apapun suatu ide tetap saja akan berpacu dengan waktu, perhatian, dan sumber daya manusia. Mereka tidak mengabaikan pengaturan budget maupun penempatan sumber daya manusia seperti halnya permainan”politik”.

Bagi mereka ini seperti halnya bermain catur, walaupun rumit mereka bermain untuk menang.

THE ORGANIZING PERSONA adalah :

4. The Hurdler / Sang Pelari Gawang
Adalah seorang problem-solver yang tak kenal lelah, individu ini akan bersemangat ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu yang belum pernah dia kerjakan sebelumnya.

Ketika berhadapan dengan sebuah tantangan dia akan melewati rintangan dengan tenang dan penuh keyakinan. Ketekunan dan penuh keyakinan inilah yang merangsangnya melontarkan ide-ide yang menghindarkan perusahaan dari kemunduran.

5. The Collaborator
Adalah individu langka yang begitu berharga bagi sebuah team, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, sang Collaborator mampu membujuk sdm dari berbagai disiplin yang tadinya bekerja sendiri-sendiri untuk berkolaborasi dalam sebuah team.

Dia lebih cocok disebut sebagai pelatih daripada bos, sang Collaborator mampu melawati batas-batas tradisional sebuah perusahaan bahwa setiap individu dalam suatu perusahaan harus bekerja dan berperan sesuai dengan posisinya masing-masing tetapi sang Collaborator mampu melebur mereka kedalam sebuah team sehingga mereka memiliki peran dan pengalaman baru dan semua bisa maju bersama dengan penuh percaya diri untuk mencapai tujuan.

6.The Director
Ia lebih tajam dalam hal perencanaan global dan pandai menangani hal-hal yang sangat vital, ia adalah urat nadi bagi sebuah perusahaan. Selain itu ia juga berbakat dalam menata langkah-langkah strategis, memposisikan orang yang tepat, dan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk dilaksanakan.

Melalui kekuasaan dan inspirasinya, individu seperti ini mampu memotivasi orang-orang disekelilingnya untuk mengambil posisi dan segera mencari solusi ketika tejadi hal-hal diluar dugaan.

THE BUILDING PERSONAS : Empat individu selanjutnya adalah para pembangun, yang berperan memanfaatkan wawasan, pengetahuan serta wewenangnya agar inovasi bisa terwujud. Mereka adalah:

7. The Experience Architect
Sang arsitek begitu fokus untuk menciptakan pengalaman individu yang luar biasa, ia memfasilitasi persaingan positif dalam perusahaan melalui produk, layanan, interaksi digital, maupun tempat kerja. Ia seperti halnya seorang juru masak mampu meramu dan merencanakan sesuatu secara matang untuk menjadikan sesuatu hal yang nampak biasa saja menjadi sesuatu yang luar biasa ditangannya.

8. The Set Designer
Sang set designer mampu membawa suasana ceria di sebuah perusahaan, mereka begitu enerjik, penuh semangat, mampu menciptakan suasana kerja yang ceria dan meriah sehingga merangsang kreatifitas.

Untuk menjaga agar inovasi bisa terus berlanjut, sang set designer menata dan mengatur tempat kerjanya sendiri sedemikian rupa sehingga dengan hanya melihat meja kerjanya saja kreatifitas dan inovasi bisa timbul, baginya tempat dan suasana kerja adalah sebuah modal yang tak kalah pentingnya bagi perusahaan.

9. The Storyteller
Sang storyteller mampu menggugah imajinasi kita melalui gaya bicara, gaya bercerita, kerja keras serta inovasinya. Individu ini mempunyaI kelebihan dalam hal berbicara dan berceritera, ia mampu menggugah emosi, mampu menularkan nilai-nilai positif, mendorong terciptanya kerjasama, mampu membawa kita dan juga perusahaan memandang jauh kedepan.

10. The Caregiver
Yang terakhir merupakan hal yang paling mendasar dari sebuah inovasi tetapi tidak kalah pentingnya adalah seorang Caregiver, melalui empatinya ia bekerja untuk memahami, menjalin serta membina hubungan dengan pelanggan, ia mampu membimbing dengan penuh kesabaran dan membuat pelanggan merasa nyaman.

Itulah ringkasan yang pendek dari buku tersebut namun kita cukup mendapatkan gambaran bagaimana Inspirasi & inovasi bisa lahir dan terwujud.

Strategi Designer untuk membina hubungan dengan client

Inilah beberapa Strategi Designer untuk membina hubungan dengan client.


1. Mengetahui peran

Perlu diingat bahwa client lebih mengetahui produk & layanan mereka dibanding kita, mereka lebih menguasai apa yang mereka kerjakan namun seringkali mereka tidak mengetahui bagaimana cara meng-komunikasikan produk dan layanan mereka terhadap konsumen, disinilah peran dan posisi kita sebagai designer datang untuk membantu mereka.

Untuk mengambil langkah paling efektif adalah kita sebagai designer mengerti pokok permasalahan dan benar-benar mengerti apa yang perlu dikomunikasikan.

Sebagai permulaan dan menjadi prioritas adalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang perusahaan, produk, layanan, juga calon audiens dan alasan kenapa kita dan karya kita diperlukan. Semakin banyak informasi tentang perusahaan kita serap maka kita akan semakin siap dan design kita akan lebih cepat juga diterima.

Dengan meluangkan waktu mengumpulkan informasi tentang perusahaan, kita juga sekaligus berbagi pengetahuan dengan clien dan mengajak clien ikut berpartisipasi dengan project yang kita kerjakan. Ini suatu hal yang baik ketika clien merasa dilibatkan dalam proses maka akan semakin percaya dengan hasil karya kita.

2. Bekerjasama dengan clien yang tepat.

“If you try to please everyone, you won’t please anyone”

Setiap client tidaklah selalu tepat untuk kita, adalah tugas kita untuk memastikan bahwa suatu project cocok atau tidak untuk kita sebagai designer, kita tidak bisa memaksakan diri untuk selalu siap untuk segala jenis project, jika kita memaksakan bukan Cuma hasil kerja kita akan terlihat kurang baik juga kita akan kehilangan banyak uang.

Ingatlah prinsip yang diperkenalkan oleh Vilfredo Pareto (dikenal juga dgn prinsip 80-20); 80% output akan dihasilkan dari 20% input, dengan kata lain kita akan mendapatkan 80% income dari 20% clien, jadi fokuslah dengan klien yang baik dan tepat saja dan tinggalkan yang tidak baik dan tidak tepat, tetaplah percaya diri dengan kekuatan dan kelebihan kita, tidak perlu khawatir kita melewatkan 1 atau 2 project, 1 atau 2 clien.

Sekali lagi, kita tidak harus mengambil setiap project yang datang ke meja kita dengan memilih project yang tepat lambat laun akan terbangun image dan reputasi kita dan akan menarik perhatian calon clien potensial, konsekuensinya kita akan mendapatkan harga yang pantas untuk hasil karya kita.


3. Pendekatan komunikasi ala Zen.

Filosofi Zen mengajarkan kita untuk melakukan pendekatan dengan pola pikiran awam terhadap setiap hal, kita harus berusaha untuk memposisikan diri kita berada dibawah client dengan demikian kita akan lebih cepat mengerti apa yg client inginkan, dengan menggunakan bahasa awam client akan lebih cepat memahami apa yang kita sampaikan.

Namun mengadopsi pola pikir awam tidak semudah kita berbicara mengebu-gebu soal istilah-istilah design, namun kita tetap harus berusaha untuk melakukannya yaitu berkomunikasi menggunakan bahasa yang umum, tanpa menduga-duga dan tanpa mengambil kesimpulan berdasarkan pendapat kita sebelumnya. Tanpa semua itu kita akan dipaksa bertanya berulang-ulang terhadap clien.

4. Menyimak apa yang tidak diucapkan.

“The most important thing in communication is to hear what isn’t being said.” – Peter F. Drucker

Yang dikatakan clien : Bisa gak teks-nya dibuat lebih besar?

Mungkin yang dimaksud clien : Font-nya agak sulit dibaca, bagaimana menurut anda?

Ketika berhadapan dengan clien yang meminta perubahan design, terutama clien yang tidak mengerti soal design, ini penting buat kita untuk menyimpan ‘ego designer’ kita. Apa yang kita butuhkan adalah betul-betul mengerti apa maunya clien. Sebelum memulai merevisi, rehat sejenak dan mintalah clien untuk menjelaskan aspek apa saja yang belum terpenuhi sehingga design yang kita ajukan belum memenuhi target yang diharapkan.

Inilah beberapa tips yang bisa menolong kita untuk bisa mengerti apa yang clien maksudkan :

- Bertanyalah secara terus terang dan jelas, hindari memulai pertanyaan yang akan menimbulkan argumen.

- Gunakanlah bahasa dan istilah umum, jangan menggunakan bahasa designer.

- Gunakanlan jawaban Ya atau Tidak untuk menggiring clien mempertegas apa yang dimaksud.

- Terimalah kritik dengan lapang dada, tidak ada clien yang menyukai designer yang terlalu sensitif.

Dengan lebih berfokus terhadap target daripada pelaksanaan, clien akan mengerti dan merasa bahwa mereka mengunakan kreatifitas kita untuk keuntungan mereka, bukan hanya untuk mendapatkan uang dari mereka.

5. Kerjakanlan apa yang harus dikerjakan tapi jangan abaikan kontrak kerja.

Kita seringkali menghadapi situasi dimana kita harus mengerjakan melebihi kontrak yang disepakati, jika menghadapi situasi demikian, inilah beberapa pilihan langkah yang bisa dilakukan:

- Kerjakanlah apa yang clien inginkan tetapi perlu ditegaskan hanya sekali ini saja kita melakukannya,

untuk kedepannya kita hanya mengerjakan sesuai kontrak yang telah disepakati.

- Menolak untuk mengerjakan dan tetap berpegang pada kontrak.

- Mencoba bernegosiasi ulang untuk merubah kontrak atau membuat kontrak baru sebelum kita

mengerjakannya.

Memang tidak ada satupun langkah yang paling tepat untuk segala situasi, ketika situasi berbeda, berbeda pula langkah yang harus diambil.

Seringkali terjadi clien meminta terlalu banyak revisi sehingga kita banyak kehilangan waktu dan butuh beberapa jam tambahan bahkan hari untuk melaksanakannya, menghadapi situasi demikian kita harus berbicara dengan clien dan menyatakan bahwa kita akan sangat senang sekali untuk membantu tetapi ini membutuhkan banyak waktu dan komitmen, sementara tugas dari clien lain juga sedang menunggu kita.

Ketika kita terpaksa harus melakukannya kita layak mendapat fee tambahan, namun ketika clien merasa membayar kita terlalu mahal, inilah salah satu clien yang harus kita tinggalkan.

6. Akuilah ketika melakukan kesalahan dan segera lakukan perbaikan.


Kesalahan adalah wajar tapi janganlah lalu menjadi kebiasaan. Semakin cepat kita menyadari kesalahan semakin cepat pula kita memperbaikinya maka dikemudian hari kesalahan-kesalahan yang sama tidak akan terulang.

Dengan membiarkan kesalahan dibiarkan terlalu lama maka akan melahirkan kesalahan yang baru dan akan semakin sulit diperbaiki.

Clien memang kurang senang dengan kesalahan yang kita lakukan tapi akan sangat senang dan menghargai kejujuran dan keterus-terangan kita.

Hampir semuanya bisa kita katakan sebagai masalah yang umum dan sebagian besar bisa dengan mudah untuk dihindari terutama jika kita terus berusaha untuk membina komunikasi dengan clien.

Perlu diingat, clien janganlah dianggap sebagai beban, clien adalah berkah. Namun Kerjasama yang dibina haruslah tetap saling menguntungkan. Kita dibayar untuk mengerjakan pekerjaan yang kita cintai dan clien membayar kita untuk mandapatkan hasil karya kita yang bukan hanya indah tapi juga fungsional.

Sumber : smashing magazine, Wikipedia, dll